Monjali merupakan
monumen yang sengaja dibangun untuk memperingati perebutan kembali Kota
Yogyakarta setelah Belanda kembali menjajah Indonesia pasca 1945. Perebutan
kembali Yogyakarta ke pangkuan ibu pertiwi ini menunjukkan bahwa Indonesia
benar-benar berdaulat dan tidak mau dijajah. Praktis, penjajanh Belanda kalah
sebagai pecundang dan Yogya kembali ke Indonesia. Oleh karenanya dinamakan
Monumen Jogja Kembali.
Melihat
sisi historinya, monjali memiliki kemiripan dengan Museum
Gedung Juang 45 di Jakarta.Gedung Juang 45 menceritakan perjuangan Indonesia
untuk membuktikan eksistensi di mata dunia antara tahun 1945-1950. Gedung Juang
45 menjadi tempata wisata sejarah museum di Jakarta.
Tak
kurang dari 1000 koleksi diorama yang mengisahkan Serangan Umum 1 Maret 1949.
Bangunan Monjali tampak unik. Saat menyusuri Ring Road Utara, dari kejauhan
sudah tampak bangunan berbentuk tumpeng berwarna putih dengan tinggi sekitar 32
meter. Itulah Monumen Jogja Kembali. Di bagian luar monumen sebelum pintu
masuk, terdapat dua buah pesawat yang digunakan dalam pembebasan Yogyakarta,
pesawat Curen. Ada juga meriam bergerak dipajang disana.
Monjali dibangun diatas lahan seluas 5,6
hektar. Sebagaimana filosofi jawa kuno, Monjali didesain dengan empat pintu
masuk sesuai arah mata angin.Pintu barat dan timur menuju museum di lantai
satu. Pintu utara dan selatan menuju musuem di lantai dua. Museum di lantai dua
berisi relief dan diorama. Monumen Jogja Kembaliberlantai tiga. Satu lantai
teratas adalah ruang hening yang hanya berisi Bendera Merah Putih perlambang
Indonesia dan sekaligus menghayati perjuangan yang tergambar di lantai satu dan
dua. Dan jika ditarik garis lurus dari udara, Monnjali berada pada garis lurus
antara lokasi Keraton Yogyakarta, Tugu Yogyakarta,dan Gunung Merapi.
Monumen Jogja kembali merupakan tempat wisata dengan
nuansa edukasi dan heroik. Heroik karena di sana bisa ditemukan benda
bersejarah seperti dokar dan tandu Jendral Soedirman, jas Sultan Hamengku
Buwono IX,hingga diorama dapur umum para pejuang.Sisi edukasinya sangat cocok
untuk mengenalkan langsung para pelajar dalam mengenang jasa dan pengorbanan
pahlawan terdahulu. Dengan ini, mereka akan merasa malu jika kelak menjadi
koruptor, pengemplang pajak, tidak taat beribadah, dan berbagai perilaku
merusak negara lainnya.
Tentang taat beribadah, banyak pahlawan pejuang
kemerdekaan yang merupakan santri dan ulama. Mereka tidak akan takut mati jika
landasanbrperang bukan karena Jihad Fii Sabilillah. Jendral Soedirman adalah
seorang ulama kharismatik dan masih mengalir darah Muhammadiyah pada diri
beliau.
Monumen Jogja Kembali terletak di Jalan Lingkar
Utara (RIng Road Utara), di Kelurahan Jongkang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten
Sleman. Dengan posisi yang strategis ini, Monjali bisa diakses dari manapun
baik dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.
Ada petikan kalimat Jendral Soedirman yang
menggetarkan jiwa dan dipajang dalam sebuah figura sederhana di Monjali.
Jendral Soedirman berpesan, “Dalam menghadapi keadaan apapun, jangan lengah
sebab kelengahan menimbulkan kelemahan dan kelemahan menimbulkan kekalahan
sedang kekalahan menimbulkan penderitaan”.
Itulah monjali yang terkenal di kalangan pelajar dan
wisatawan pecinta sejarah. Wisata ke monjali tak kalah serunya dibanding wisata ke pantai pesisir selatan
provinsi DIY.
Pencarian Wisata Favorit:
Monjali,monumen jogja kembali,museum jogja kembali,keadaan di
monjali,monumen jogja kembali (monjali),monjali jogja,keadaan yang ada
dimonjali,Ada apa saja di Monjali,monumen jogja kembali fokus sejarah,kelurahan
monjali